Halaman

Jumat, 02 November 2012

Aqidah, Khawarij dan Murjiah


 
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Permulaan dari perpecahan umat Islam, boleh dikatakan sejak wafatnya Nabi. Tetapi perpecahan itu menjadi reda, karena terpilihnya Abu Bakar menjadi khalifah.
Demikianlah berjalan masa-masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dalam kubu persatuan yang erat dan persaudaraan yang mesrah. Dalam masa ketiga khalifah itulah dipergunakan kesempatan yang sebaik-baiknya dan mengembangkan Islam keseluruh alam. Tetapi setelah Islam meluas kemana-mana, tiba-tiba diakhir khalifah Utsman, terjadi suatu konflik yang ditimbulkan oleh tindakan Utsman yang kurang disetujui oleh pendapat umum.
Inilah asalnya fitnah yang membuka kesempatan untuk orang-orang yang lapar kedudukan, menggulingkan pemerintahan Utsman. Semenjak itulah, berpangkalnya perpecahan umat Islam sehingga menjadi beberapa partai atau golongan.
Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang mazhab aqidah, Khawarij, Murjiah, dan hubungan sains dengan ilmu tauhid.

PEMBAHASAN
A.    AQIDAH
1.      Pengertian Aqidah
Kata "‘aqidah" diambil dari kata dasar "al-‘aqdu" yaitu ar-rabth(ikatan), al-Ibraam (pengesahan), al-ihkam(penguatan), at-tawatstsuq(menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah(pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk(pengokohan) dan al-itsbaatu(penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin(keyakinan) dan al-jazmu(penetapan).
"Al-‘Aqdu" (ikatan) lawan kata dari al-hallu(penguraian, pelepasan). Dan kata tersebut diambil dari kata kerja: " ‘Aqadahu" "Ya'qiduhu" (mengikatnya), " ‘Aqdan" (ikatan sumpah), dan " ‘Uqdatun Nikah" (ikatan menikah). Allah Ta'ala berfirman, "Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja ..." (Al-Maa-idah : 89).
Sedangkan Aqidah menurut terminologi yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
2.      Perkembangan Aqidah
Apabila kita memperhatikan kisah para Rasul, maka apa yang mereka serukan pertama kali saat mereka berdakwah adalah tentang tauhid, bahwa kita diwajibkan untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi- Nya dan menjauhi syirik walaupun dengan syariat yang berbeda-beda. Hal ini bukan berarti para Rasul tidak menyeru kepada keutamaan-keutamaan yang lain, namun mereka juga membawa syariat dan konsep hidup untuk memperbaiki urusan hidup umatnya di dunia. Mereka juga memerintahkan yang makruf dan menjauhi yang munkar. Meskipun begitu, keutamaan yang paling besar adalah mentauhidkan Allah dan bertaqwa kepada-Nya.
Pada zaman Rasulullah Saw, aqidah bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri, karena masalahnya sangat jelas dan tidak terjadi perbedaan- perbedaan faham, kalaupun terjadi langsung diterangkan oleh beliau. Pada masa ini, saat membicarakan masalah aqidah maka cakupannya cukup jelas, yaitu tentang tauhid, tentang dien yang hanif, dien yang lurus, dien yang fithrah (suci), yang Allah telah menciptakan manusia atas dasar fithrah. Dia selalu ada bersamaan dengan adanya manusia, sebagaimana diterangkan dalam Al Quran sebagai sumber sejarah yang kuat dalam surat Ar Ruum ayat 30, yang berbunyi:
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ  
Artinya:
            Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (TQS. Ar-Ruum : 30)
B.     KHAWARIJ
1.      Pengertian Khawarij.
Khawarij berasal dari bahasa arab yaitu kharaja (orang-orang yang keluar) artinya orang – orang yang keluar dari barisan Ali Ibn Abi Thalib,karena kekecewaan mereka terhadap sikapnya yang telah menerima tawaran tahkim (arbitrase) dari kelompok Mu’awiyyah yang dikomandoi oleh Amr ibn Ash dalam Perang Shiffin ( 37H / 657 ).
Jadi, nama khawarij bukanlah berasal dari kelompok ini. Mereka sendiri lebih suka menamakan diri dengan Syurah atau para penjual, yaitu orang-orang yang menjual (mengorbankan) jiwa raga mereka demi keridhaan Allah, sesuai dengan firman Allah QS. Al-Baqarah : 207. Selain itu, ada juga istilah lain yang dipredikatkan kepada mereka, seperti Haruriah, yang dinisbatkan pada nama desa di Kufah, yaitu Harura, dan Muhakkimah, karena seringnya kelompok ini mendasarkan diri pada kalimat “la hukma illa lillah” (tidak ada hukum selain hukum Allah), atau “la hakama illa Allah” (tidak ada pengantara selain Allah).
2.      Sejarah Khawarij
Kelompok Khawarij merupakan aliran teologi pertama yang muncul dalam dunia Islam, yakni abad I H/8 M pada masa pemerintahan Ali ibn Abi Thalib. Kemunculannya dilatabelakangi oleh pertikaian politik antara Ali dengan Muawiyah ibn Abi Sufyan, yang pada waktu itu menjabat sebagai gubernur Syam (sekarang : Suriah). Muawiyah menolak memberikan baiat kepada Ali yang terpilih sebagai khalifah sehingga Ali mengerahkan bala tentara untuk menggempur Muawiyah. Muawiyah juga mengumpulkan pasukan untuk menghadapi Ali. Kedua pasukan itu lalu bertemu di suatu tempat bernama Siffin. Pertempuran yang dinilai dahsyat dan tergolong besar terjadi antara kedua belah pihak, buktinya dengan banyak korban. Di pihak Ali, 25.000 orang gugur, sementara di pihak Muawiyah 45.000 personel tewas.
Dalam pertarungan ini ini pihak Ali memperlihatkan akan memperoleh kemenangan dan berhasil mendesak pasukan Muawiyah. Amr ibn As yang ikut berperang di pihak Muawiyah mengusulkan kepada Muawiyah agar memerintahkan pasukannya mengangkat mushaf (kumpulan lembaran) al-Quran dengan ujung tombak sebagai isyarat minta damai. Pada mulanya, Ali tidak mau menerima tawaran damai Muawiyah tersebut. Tetapi, karena desakan sebagian pengikutnya, terutama para qurra’ (pembaca) dan huffadz (penghafal), diputuskan untuk mengadakan arbitrasi (tahkim). Sebagai hakam atau penengah, diangkat dua orang, yaitu Abu Musa al-Asy’ari yang dikenal lurus mewakili kelompok Ali dan Amr ibn As yang licik menjadi delegasi golongan Muawiyah. Keputusan Ali menerima arbitrasi sebagai jalan penyelesaian sengketa tentang khilafah dengan Muawiyah ternyata tidak didukung oleh semua pengikutnya. Mereka yang tidak setuju dengan sikap Ali keluar dari barisan, lalu mengangkat Abdullah ibn Wahab al-Rasibi sebagai pemimpin mereka yang baru. Kelompok ini kemudian memisahkan diri ke Harura, suatu desa dekat Kufah. Mereka inilah yang dikenal dengan sebutan golongan Khawarij.
Seiring perjalanan waktu, kaum Khawarij di Harura berhasil menyusun kekuatan dan memperoleh banyak pengikut, sehingga mereka berani menyatakan pembangkangan terhadap Ali. Menurut keyakinan mereka, Ali dan Muawiyah serta semua yang menyetujui arbitrasi dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam. Oleh karenanya, mereka harus ditentang dan dijatuhkan. Untuk menumpas kaum Khawarij tersebut, Ali menyiapkan sepasukan tentara dan kemudian kedua pasukan itu bertempur di sebuah tempat yang bernama Nahrawan. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan tentara Ali dan hampir seluruh kekuatan Khawarij dapat dimusnahkan. Menurut Abdul Karim Syahristani, tidak sampai sepuluh orang kaum Khawarij yang selamat dari peperangan ini. Lainnya tumbang dalam medan perang, termasuk pemimpin mereka Abdullah ibn Wahab al-Rasibi. Akan tetapi, kekalahan total di Nahrawan tidak membuat kaum Khawarij patah semangat, malah justru membangkitkan semangat jihad mereka untuk menjatuhkan Ali. Akhirnya salah seorang di antara mereka yang bernama Abdurrahman ibn Muljam berhasil membunuh Ali saat beliau keluar rumah hendak melaksanakan shalat Subuh pada 17 Ramadlan 40 H/24 Januari 661 M. Sirajuddin Abbas menambahkan bahwa rencana pembunuhan yang dirancang oleh kaum Khawarij tidak saja Ali, tetapi juga terhadap Muawiyah yang akan dilakukan oleh al-Barak dan Amr ibn As yang akan dilaksanakan oleh Umar ibn Bakir. Amr ibn As akan dibunuh karena dinilai sebagai delegasi Muawiyah dalam arbitrasi yang menipu. Tetapi pembunuhan terencana terhadap keduanya tidak berhasil.
3.      Doktrin – Doktrin Khawarij.
Doktrin – doktrin pokok khawarij adalah :
a.       Khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat islam .
b.      Khalifah tidak harus berasal dari keturunan arab.
c.       Khalifah dipilih secara permanen selama bersikap adil dan menjalankan syari’at islam.
d.      Khalifah sebelum Ali(Abu Bakar,Umar, dan Utsman ) adalah sah, tetapi setelah tahun ke tujuh dari masalah ke khalifahannya, utsman dianggap menyeleweng.
e.       Khalifah Ali ibn Abi Thalib adalah sah tetapi setelah terjadi arbitrase (takhim), Ia dianggap telah menyeleweng,
f.       Muawiyah dan Amr bin Al-Ash serta Abu Musa Al-Asyari juga telah dianggap menyeleweng dan telah menjadi kafir,
g.      Pasukan perang jamal yang melawan Ali juga kafir.
h.      Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh. Yang sangat anarkis lagi mereka menganggap bahwa seorang muslim dapat menjadi kafir apabila ia tidak mau membunuh muslim lain yang telah dianggap kafir dengan resiko ia menanggung beban harus dilenyapkan pula.
i.        Setiap Muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Bila tidak mau bergabung, ia wajib diperangi.
j.        Seseorang harus menghindar dari pimipinan yang menyeleweng.
k.      Adanya wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus masuk surga dan orang jahat masuk neraka).
l.        Amar ma’ruf nahi mungkar.
m.    Memalingkan Ayat-ayat Al-Qur’an yang mutasabihat (samar).
n.      Al – Qur’an adalah makhluk.
o.      Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari tuhan.
4.      Sekte – Sekte Khawarij Dan Tokoh – Tokohnya.
Kaum khawarij terbagi kedalam beberapa sekte atau kelompok – kelompok. Perpecahan ini  dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat tentang siapa yang disebut orang kafir dan keluar dari agama islam dan siapa yang disebut orang mukmin, dan disebabkan oleh sikap radikalitas yang melekat pada watak dan perbuatan mereka yang rentan pada terjadinya perpecahan. Diantara sub-sub sekte dari aliran khawarij ialah:
a.       Al-Muhakkimah
Al-muhakimah adalah golongan khawarij yang terdiri dari pengikut-pengikut asli dari Ali Ibn Abi Thalib yang memisahkan diri dari kelompok Ali karena tidak menyetujui tahkim pada penyelsaian perang shiffin. Kelompok ini dipimpin oleh Abdullah bin Al-kiwa, Attab bin al-a’war Abdulah bin wahab ar-rasibi,Urwa bin jarir,Yazid bin Ashim Al muharribi dan Hurqus bin zuhair albajali yang dikenal dengan Dzul tsudayah.
Mereka melandasi pemberontakan dengan dua fundamental yaitu: inovasi dalam imamah dan orang-orang yang menyetujiu arbitrase dipandang bersalah dan kafir.
b.       Al-Azariqah
Kelompok ini terbesar setalah Al-Muhakkimah, yang dibentuk oleh Nafi’ Ibn al-Azraq, dengan pengikut tidak kurang dari dua puluh ribu orang. Kelompok ini lebih keras dan radikal dari pada kelompok sebelumnya. Karena tidak lagi memakai term “kafir” bagi yang melanggar pemahaman Azariqah, tapi sampai kepada term “musyrik”. Lebih jauh mereka menilai semua orang termasuk golongan mereka sendiri, yang tidak mau berhijrah ke lingkungan al-Azariqah adalah musyrik dan harus diperangi. Pemahaman kelompok ini yang terlalu radikal, kemudian memicu perpecahan
c.       Al-Najdat
Abu fudaik, Rasyid at-Tawil dan Atiah al-Hanafi dari al-Azariqah, yang tidak sependapat dengan pemahaman radikal Azariqah, memisahkan diri dan pergi ke Yammah. Didaerah ini terdapat kelompok yang dibentuk Najdah Ibn ‘Amir al-Hanafi yang sesungguhnya mau bergabung dengan kelompok al-Azariqah, kemudian dirangkul oleh Abu Fudaik. Walaupun Najdah diangkat sebagai Imam, namun apabila kelompoknya tidak memerlukan kepemimpinan, maka Imam tidak diperlukan lagi. Dalam kelompok ini juga dikenal paham taqiah, yaitu merahasiakan pemehaman demi keamanan. An-Najdat tergolong lunak terhadap pihak luar, hal ini kemudian memicu perpecahan, Atiah al-Hanafi mengasingkan diri ke Iran, sedangkan Abu fudaik dan Rasyid at-Tawil mengadakan perlawanan terhadap Najdah.
d.       Al-‘Ajaridah
Mereka adalah pengikut Abd Karim Ibn ‘Ajrad, kelompok ini lebih lunak dai kelompok sebelumnya. Dengan paham bahwa anak kecil tidak menanggung dosa oaring tuanya.
e.        Al-Sufriyah
Dipimpin oleh Ziad Ibn as-Asyfar, kelompok ini sama ekstrimnya dengan Azariqah. Mereka membagi term kufur menjadi kufur bi an-ni’mah dan kufur bi ar-Rububiyah, sehingga tidak semua kufur dianggap keluar dari Islam.
f.        Al-Ibadiyah
Kelompok ini paling moderat dari yang lain. Nama al-Ibadiyah diambil dari nama Abdullah Ibn Ibad yang keluar dari Azariqah pada tahun 686 M. mereka menganggap perbuatan dosa besar tidak mengakibatkan kekafiran, mereka tetap dianggap muwahhid tapi bukan mukmin.
C.    MADZHAB MURJI’AH
1.      Pengertian Murji’ah.
Kata Murji’ah berasal dari bahasa arab yaitu irja’ atau arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan, dan pengharapan. Kata arja’a mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu, arja’a berarti pula meletakkan dibelakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu Murji’ah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa, yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing, ke hari kiamat kelak.
Bagi kaum Murji'ah, orang yang melakukan dosa besar adalah tetap mukmin, soal dosa besar yang dilakukannya merupakan hak Tuhan untuk menentukannya dihari kemudian. Alasan mereka adalah bahwa orang yang melakukan dosa besar itu masih tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan (Rasul) Allah, atau dengan kata lain masih tetap mengucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar iman. Selanjutnya, kaum Muhajirin memberikan harapan bagi orang Islam yang melakukan dosa besar, dengan mengatakan bahwa mereka tidak kekal di dalam neraka aliran Murji’ah menganggap iman lebih utama dari amal perbuatan.
2.      Sejarah Murji’ah.
Sejarah Munculnya Murji’ah dan Pokok-pokok Ajarannya
Ada beberapa teori yang berkembang mengenai asal-usul murji’ah :
a.       Teori yang menyatakan bahwa gagasaan irja’, merupakan basis pertama kali sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh al-hasan bin muhammad al-hanafiyah, bentuk pendoktrinan politik. Gagasan ini menceritakan bahwa 20 tahun setelah kematian muawiyah. Tepatnya pada tahun 680 H dunia islam mulai dikoyak oleh pertikaian sipil. Hal ini al-muhtar membawa paham syi’ah ke kuffah dari tahun 685-687 H, ibnu zubair mengklaim kekhalifahan di mekkah berada di kekuasaan islam. Respon ini muncul gagasan irja’ atau penagguhan (postponenment). Dengan sikapnya hasan menangani murji’ah berdasarkan mencoba untuk mananggulangi perpecahan umat islam. Ia kemudian mengelak berdampingan dengan kelompok syi’ah revolusioner yang terlamopau menggunakan ali dan para pengikutnya, serta menjauhkan diri dati khawarij yang menolak mengakui kekhalifahan muawiyah dengan alasan bahwa ia adalah keturunan dari sang nepotisme usman.
b.      Teoti yang kedua Menjelaskan perseteruan antara ali dan muawiyah, dengan adanya tahkim (arbitrasi) atas usulan amar bin ash, seorang kaki tangan muawiyah. Kelompok ali terpecah menjadi dua kubu (pro dan kontra). Kelompok kontra yaitu yang menyatakan keluar dari ali dalam hal ini disebut kubu khawarij. Mereka mamandang bahwa tahkim bertentangan dengan al-quran dalam pengertian tidak berdasarkan hukum Allah. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa melakukan tahkim itu merupakan dosa besar dan pelakunya dihukumi kafir. Pendapat ini ditentang oleh kelompok murjiah yang mengatakan pembuat dosa besar itu tetap mu’min tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah apakah dia akan mengampuni apa tidak.
3.      Ajaran Pokok Murji’ah
Ajaran pokok Murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau doktrin irja’ atau arja’a yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik persoalan politik maupun teologis. Dibidang politik doktrin irja diimplementasikan dengan sikap netral atau nonblok yang  hampir selalu diekspresikan dengan sikap diam. Adapun dibidang teologi doktrin irja’ dikembangkan oleh murji’ah ketika menghadapi persoalan-persoalan teologis yang muncul. Menurut beberapa tokoh garis besar ajaran murji’ah sebagai berikut :
                 a.      Penangguhan keputusan terhadap ali dan mu’awiyah hingga Allah yang menentukan di hari akhir kelak
                 b.      Penangguhan ali untuk menduduki rangking ke empat dalam peringkat kekhalifahan ar-rosyidin
                 c.      Memberikan harapan kepada orang muslim yang melakukan dosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah
                d.      Doktrin murji’ah menyerupai pengajaran mazhab yang skeptis dan empiris dari kalangan helenis (meletakkan pentingnya iman daripada amal)

D.    Hubungan Sains dan Ilmu Tauhid
Dalam Al Quran, Allah berfirman kepada umat manusia:
Ï%©!$# Ÿ@yèy_ /ä3s9 z`ÏiB ̍yf¤±9$# ÎŽ|Ø÷zF{$# #Y$tR !#sŒÎ*sù OçFRr& çm÷ZÏiB tbrßÏ%qè? ÇÑÉÈ  
Artinya:
Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu. (TQS. Yaasiin, 36: 80)
Rancangan pada Oksigen
Kita telah mengetahui bagaimana karbon merupakan unsur pem-bentuk makhluk hidup yang paling penting dan bagaimana karbon diran-cang secara khusus untuk memenuhi fungsi tersebut. Tetapi keber-adaan semua bentuk kehidupan berbasis karbon mutlak bergantung pada hal kedua: energi. Energi adalah kebutuhan yang mutlak bagi kehidupan.
Tanaman hijau memperoleh energi mereka dari matahari melalui proses fotosintesis. Bagi makhluk hidup lain di bumi—termasuk kita—satu-satunya sumber energi adalah sebuah proses yang disebut “oksida-si”—kata keren dari “pembakaran”. Energi organisme penghirup oksigen diperoleh dari pembakaran makanan yang berasal dari tumbuhan dan binatang. Seperti yang Anda tebak dari istilah “oksidasi”, pembakaran tersebut merupakan reaksi kimia yang menjadikan zat-zat teroksidasi —dengan kata lain, zat-zat digabungkan dengan oksigen. Karena itulah oksigen sama mutlaknya bagi kehidupan seperti karbon dan hidrogen.
Rumus umum pembakaran (oksidasi) adalah sebagai berikut:
Senyawa karbon + oksigen > air + karbon dioksida + energi
Artinya bahwa ketika senyawa karbon dan oksigen bergabung (tentu di bawah kondisi yang tepat), sebuah reaksi berlangsung sehingga meng-hasilkan air dan karbon dioksida dan melepaskan energi yang besar. Reaksi ini paling mudah terjadi pada hidrokarbon (senyawa hidrogen dan karbon). Glukosa (sejenis gula yang juga hidrokarbon) adalah senyawa yang secara tetap dibakar dalam tubuh Anda untuk menjaga agar tubuh tetap mendapat pasokan energi.
Begitulah, hidrogen dan karbon yang menyusun hidrokarbon me-rupakan unsur yang paling sesuai untuk berlangsungnya oksidasi. Di antara semua atom lainnya, hidrogen paling mudah bergabung dengan oksigen dan melepaskan energi paling banyak dalam proses tersebut. Jika Anda memerlukan bahan bakar untuk membakar dalam oksigen, Anda tidak dapat menemukan yang lebih baik daripada hidrogen. Dari nilainya sebagai bahan bakar, karbon berada di urutan ketiga setelah hidrogen dan boron. Dalam buku The Fitness of the Environment, Lawrence Henderson mengomentari kesesuaian luar biasa yang tampak di sini:  
Reaksi-reaksi kimia (tersebut di atas), yang karena banyak alasan lain tampak paling sesuai untuk proses fisiologi, ternyata merupakan reaksi yang mampu mengalirkan energi melimpah ke dalam arus kehidupan.
Rancangan pada Api
(atau Mengapa Anda Tidak Langsung Terbakar)
Sebagaimana kita ketahui, reaksi dasar yang melepaskan energi yang diperlukan bagi kelangsungan organisme penghirup oksigen adalah oksi-dasi hidrokarbon. Tetapi fakta sederhana ini menimbulkan pertanyaan menyulitkan: Jika tubuh kita tersusun terutama oleh hidrokarbon, me-ngapa hidrokarbon dalam tubuh tidak teroksidasi juga? Dengan kata lain, mengapa kita tidak langsung terbakar, seperti korek api digesekkan?
Tubuh kita secara terus-menerus berhubungan dengan oksigen da-lam udara namun tidak teroksidasi: tubuh tidak terbakar. Mengapa tidak?
Alasan bagi keadaan yang bertolak belakang ini adalah bahwa di bawah suhu dan tekanan normal, oksigen dalam bentuk molekul (O2) memiliki tingkat kelembaman (keengganan) atau “nobilitas” yang besar. (Arti dalam istilah kimia, “nobilitas” adalah keengganan atau ketidak-mampuan sebuah zat untuk melakukan reaksi kimia dengan zat lain). Na-mun hal ini menimbulkan pertanyaan lain. Jika molekul oksigen begitu “enggan” sampai menghindar dari membakar kita, bagaimana molekul yang sama berhasil melakukan reaksi kimia di dalam tubuh kita?
Jawaban untuk pertanyaan ini, yang membingungkan para ahli ki-mia pada awal abad ke-19, tidak diketahui sampai pertengahan kedua abad ke-20, ketika para peneliti biokimia menemukan keberadaan enzim dalam tubuh manusia yang berfungsi hanya untuk memaksa O2 di atmos-fer untuk memasuki reaksi kimia. Sebagai hasil serangkaian langkah yang sangat rumit, enzim tersebut menggunakan atom besi dan tembaga dalam tubuh kita sebagai katalis. Katalis adalah senyawa yang memulai sebuah reaksi kimia dan memungkinkan reaksi tersebut berlanjut dalam keadaan berbeda (misalnya suhu yang lebih rendah, dan lain-lain) yang mestinya tidak mungkin apabila tanpa katalis. 93
Dengan kata lain, terdapat hal yang sangat menarik: Oksigen meru-pakan unsur yang mendukung oksidasi dan pembakaran, dan wajar orang berharap oksigen akan membakar kita juga. Untuk mencegahnya, bentuk molekul O2 oksigen yang ada di atmosfer diberi sifat kelembaman kimia yang kuat. Karena itulah oksigen tidak mudah bereaksi. Namun di lain sisi, tubuh kita bergantung pada sifat pem-bakaran oksigen untuk energi tubuh dan karena alasan itulah sel-sel kita dilengkapi dengan sis-tem enzim yang sangat rumit yang membuat gas “enggan” tersebut sangat reaktif.
Selagi dalam bahasan ini, perlu ditunjukkan pula bahwa sistem en-zim merupakan contoh rancangan yang begitu mengagumkan sehingga teori evolusi yang menyatakan bahwa kehidupan muncul kebetulan tidak akan pernah mampu menjelaskannya. 94Terdapat pencegahan lain agar tubuh kita tidak terbakar, yang dise-but ahli kimia Nevil Sidgwick sebagai “sifat kelembaman karbon”.
Artinya, karbon tidak terlalu mudah juga dalam bereaksi dengan oksigen di bawah tekanan dan suhu normal. Dijelaskan dengan bahasa kimia, semua ini tampak agak sulit dimengerti, namun sebetulnya yang akan digambarkan di sini adalah sesuatu yang pasti sudah diketahui siapa pun yang pernah menyalakan perapian dengan tumpukan kayu atau tungku batubara pada musim dingin atau mengadakan barbecue pada musim panas. Agar api mulai menyala, Anda harus menyiapkan banyak perlengkapan (bahan bakar, pemantik dan lain-lain) atau meningkatkan dengan tiba-ti-ba suhu bahan bakar sampai derajat sangat tinggi (seperti dengan obor). Tetapi sekali bahan bakar itu terbakar, karbon di dalamnya bereaksi de-ngan oksigen dengan cepat dan energi dilepas-kan dalam jumlah besar. Itulah sebabnya sangat sulit menyalakan api tanpa sumber panas lain. Namun setelah pembakaran dimulai, panas yang tinggi dihasilkan dan menyebabkan senya-wa karbon lain yang terdekat ikut terbakar sehingga api menyebar.
Jika kita mencermati masalah ini, kita dapat melihat bahwa api itu sendiri adalah contoh rancangan paling menarik. Sifat kimia oksigen dan karbon telah dirancang sedemikan rupa sehingga kedua unsur ter-sebut saling bereaksi (pembakaran) hanya ketika terdapat panas tinggi. Ini juga bagus karena jika sebaliknya, kehidupan di planet ini tidak akan menyenangkan atau bahkan tidak mungkin. Andaikan oksigen dan kar-bon hanya sedikit lebih mudah saling bereaksi, pembakaran spontan — penyalaan dengan sendirinya — dari manusia, pohon, dan binatang akan menjadi kejadian yang lumrah ketika cuaca terlalu hangat. Misalnya, se-orang yang berjalan melalui gurun bisa secara tiba-tiba terbakar di siang hari sangat terik; tanaman dan binatang akan dihadapkan pada risiko yang sama. Bahkan andaikan kehidupan mungkin ada dalam dunia seperti itu, benar-benar tidak akan menyenangkan.
Sebaliknya, andaikan karbon dan oksigen sedikit lebih lembam (yaitu agak kurang reaktif) dari sekarang ini, akan lebih sulit menyalakan api: bahkan mungkin mustahil. Dan tanpa api, kita bukan saja tak mampu menjaga tubuh tetap hangat: besar kemungkinan bahwa tidak akan ada kemajuan teknologi di planet kita, karena kemajuan tersebut bergantung pada kemampuan mengolah bahan-bahan seperti logam; dan tanpa pa-nas yang disediakan oleh api, pemurnian dan pengolahan logam menjadi mustahil.
Semua hal tersebut menunjukkan bahwa sifat-sifat kimia karbon dan oksigen disusun agar sangat sesuai bagi kebutuhan umat manusia. Berke-naan dengan hal ini, Michael Denton mengatakan:
Ketidak-reaktifan atom karbon dan oksigen pada suhu lingkungan, diga-bungkan dengan energi sangat besar yang dilepaskan begitu pembakaran dimulai, benar-benar cocok bagi kehidupan di bumi. Kombinasi aneh ini tidak hanya menyediakan energi melimpah bagi kehidupan tingkat tinggi dari ok-sidasi yang terkendali dan teratur, namun juga memungkinkan penggunaan api terkendali oleh umat manusia, serta memungkinkan pe-manfaatan energi pembakaran yang melimpah bagi kemajuan teknologi.
Dengan kata lain, karbon dan oksigen telah diciptakan dengan sifat-sifat yang paling sesuai untuk kehidupan manusia. Sifat-sifat kedua un-sur ini memungkinkan kita menyalakan api dan memanfaatkannya se-nyaman mungkin. Lebih jauh lagi, dunia penuh dengan sumber karbon (misalnya kayu) yang sesuai bagi pembakaran. Semua itu merupakan petunjuk bahwa api dan bahan-bahan untuk memulai dan memper-tahankannya diciptakan khusus sesuai bagi kehidupan manusia.








SIMPULAN
Sedangkan Aqidah menurut terminologi yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
            Khawarij berasal dari bahasa arab yaitu kharaja (orang-orang yang keluar) artinya orang – orang yang keluar dari barisan Ali Ibn Abi Thalib,karena kekecewaan mereka terhadap sikapnya yang telah menerima tawaran tahkim (arbitrase) dari kelompok Mu’awiyyah yang dikomandoi oleh Amr ibn Ash dalam Perang Shiffin ( 37H / 657 ).
Kata Murji’ah berasal dari bahasa arab yaitu irja’ atau arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan, dan pengharapan. Kata arja’a mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu, arja’a berarti pula meletakkan dibelakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu Murji’ah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa, yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing, ke hari kiamat kelak.
Salah satu fakta sains yang berhubungan dengan Ilmu Tauhid adalah ketika senyawa karbon dan oksigen bergabung (tentu di bawah kondisi yang tepat), sebuah reaksi berlangsung sehingga meng-hasilkan air dan karbon dioksida dan melepaskan energi yang besar. Reaksi ini paling mudah terjadi pada hidrokarbon (senyawa hidrogen dan karbon). Glukosa (sejenis gula yang juga hidrokarbon) adalah senyawa yang secara tetap dibakar dalam tubuh Anda untuk menjaga agar tubuh tetap mendapat pasokan energi.







DAFTAR PUSTAKA
Basri, Hasan dkk. 2007.  Ilmu Kalam. Bandung : Azkia Pustaka Utama.
Hamdani, dkk. 2010. Ilmu Kalam. Bandung : Sega Arsy.
Rozak, Abdul dan Rosihon Anwar. 2007. Ilmu Kalam. Bandung : Pustaka Setia.
http://www.scribd.com/doc/22535427/Tugas-Agama-01-Makalah-Akidah-Dan-Komponen-Komponennya













                                                                                                                                                                                                                                                        
                                                                                                                                                                                          
 


 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
                                                                                                                                                                                          












Tidak ada komentar:

Posting Komentar