PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Permulaan dari
perpecahan umat Islam, boleh dikatakan sejak wafatnya Nabi. Tetapi perpecahan
itu menjadi reda, karena terpilihnya Abu Bakar menjadi khalifah.
Demikianlah
berjalan masa-masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dalam kubu persatuan yang erat
dan persaudaraan yang mesrah. Dalam masa ketiga khalifah itulah dipergunakan
kesempatan yang sebaik-baiknya dan mengembangkan Islam keseluruh alam. Tetapi
setelah Islam meluas kemana-mana, tiba-tiba diakhir khalifah Utsman, terjadi
suatu konflik yang ditimbulkan oleh tindakan Utsman yang
kurang disetujui oleh pendapat umum.
Inilah asalnya
fitnah yang membuka kesempatan untuk orang-orang yang lapar kedudukan,
menggulingkan pemerintahan Utsman. Semenjak itulah, berpangkalnya perpecahan
umat Islam sehingga menjadi beberapa partai atau golongan.
Pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan tentang mazhab aqidah,
Khawarij, Murjiah, dan hubungan sains dengan ilmu tauhid.
PEMBAHASAN
A.
AQIDAH
1.
Pengertian Aqidah
Kata "‘aqidah" diambil dari kata dasar "al-‘aqdu" yaitu
ar-rabth(ikatan), al-Ibraam (pengesahan), al-ihkam(penguatan),
at-tawatstsuq(menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah(pengikatan
dengan kuat), at-tamaasuk(pengokohan) dan al-itsbaatu(penetapan).
Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin(keyakinan) dan al-jazmu(penetapan).
"Al-‘Aqdu" (ikatan) lawan kata dari al-hallu(penguraian,
pelepasan). Dan kata tersebut diambil dari kata kerja: " ‘Aqadahu"
"Ya'qiduhu" (mengikatnya), " ‘Aqdan" (ikatan sumpah), dan
" ‘Uqdatun Nikah" (ikatan menikah). Allah Ta'ala berfirman, "Allah
tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk
bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu
sengaja ..." (Al-Maa-idah : 89).
Sedangkan Aqidah menurut terminologi yaitu perkara yang wajib dibenarkan
oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan
yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
2.
Perkembangan Aqidah
Apabila kita memperhatikan kisah para Rasul, maka apa yang mereka serukan
pertama kali saat mereka berdakwah adalah tentang tauhid, bahwa kita diwajibkan
untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi- Nya dan menjauhi
syirik walaupun dengan syariat yang berbeda-beda. Hal ini bukan berarti para
Rasul tidak menyeru kepada keutamaan-keutamaan yang lain, namun mereka juga
membawa syariat dan konsep hidup untuk memperbaiki urusan hidup umatnya di
dunia. Mereka juga memerintahkan yang makruf dan menjauhi yang munkar. Meskipun
begitu, keutamaan yang paling besar adalah mentauhidkan Allah dan bertaqwa
kepada-Nya.
Pada zaman Rasulullah Saw,
aqidah bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri, karena masalahnya sangat jelas dan tidak terjadi
perbedaan- perbedaan faham, kalaupun terjadi langsung
diterangkan oleh beliau. Pada
masa ini, saat membicarakan masalah aqidah maka cakupannya cukup
jelas, yaitu tentang tauhid, tentang dien yang hanif,
dien yang lurus, dien yang fithrah (suci), yang Allah
telah menciptakan manusia atas dasar fithrah. Dia selalu
ada bersamaan dengan adanya manusia, sebagaimana diterangkan dalam Al Quran sebagai sumber sejarah yang kuat dalam surat Ar Ruum
ayat 30, yang berbunyi:
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9
$ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù
}¨$¨Z9$# $pkön=tæ
4
w @Ïö7s?
È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 Ï9ºs ÚúïÏe$!$#
ÞOÍhs)ø9$# ÆÅ3»s9ur
usYò2r& Ĩ$¨Z9$# w tbqßJn=ôèt ÇÌÉÈ
Artinya:
Maka
hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui. (TQS. Ar-Ruum : 30)
B.
KHAWARIJ
1.
Pengertian Khawarij.
Khawarij berasal dari bahasa arab yaitu kharaja (orang-orang yang keluar)
artinya orang – orang yang keluar dari barisan Ali Ibn Abi Thalib,karena kekecewaan mereka terhadap sikapnya yang telah menerima tawaran tahkim
(arbitrase) dari kelompok Mu’awiyyah yang dikomandoi oleh Amr ibn Ash dalam
Perang Shiffin ( 37H / 657 ).
Jadi, nama khawarij bukanlah berasal dari
kelompok ini. Mereka sendiri lebih suka menamakan diri dengan Syurah atau para
penjual, yaitu orang-orang yang menjual (mengorbankan) jiwa raga mereka demi
keridhaan Allah, sesuai dengan firman Allah QS. Al-Baqarah : 207. Selain itu,
ada juga istilah lain yang dipredikatkan kepada mereka, seperti Haruriah,
yang dinisbatkan pada nama desa di Kufah, yaitu Harura, dan Muhakkimah,
karena seringnya kelompok ini mendasarkan diri pada kalimat “la hukma illa
lillah” (tidak ada hukum selain hukum Allah), atau “la hakama illa Allah”
(tidak ada pengantara selain Allah).
2. Sejarah
Khawarij
Kelompok
Khawarij merupakan aliran teologi pertama yang muncul dalam dunia Islam, yakni
abad I H/8 M pada masa pemerintahan Ali ibn Abi Thalib. Kemunculannya
dilatabelakangi oleh pertikaian politik antara Ali dengan Muawiyah ibn Abi
Sufyan, yang pada waktu itu menjabat sebagai gubernur Syam (sekarang : Suriah).
Muawiyah menolak memberikan baiat kepada Ali yang terpilih sebagai khalifah
sehingga Ali mengerahkan bala tentara untuk menggempur Muawiyah. Muawiyah juga
mengumpulkan pasukan untuk menghadapi Ali. Kedua pasukan itu lalu bertemu di
suatu tempat bernama Siffin. Pertempuran yang dinilai dahsyat dan tergolong
besar terjadi antara kedua belah pihak, buktinya dengan banyak korban. Di pihak
Ali, 25.000 orang gugur, sementara di pihak Muawiyah 45.000 personel tewas.
Dalam
pertarungan ini ini pihak Ali memperlihatkan akan memperoleh kemenangan dan
berhasil mendesak pasukan Muawiyah. Amr ibn As yang ikut berperang di pihak
Muawiyah mengusulkan kepada Muawiyah agar memerintahkan pasukannya mengangkat
mushaf (kumpulan lembaran) al-Quran dengan ujung tombak sebagai isyarat minta
damai. Pada mulanya, Ali tidak mau menerima tawaran damai Muawiyah tersebut.
Tetapi, karena desakan sebagian pengikutnya, terutama para qurra’
(pembaca) dan huffadz (penghafal), diputuskan
untuk mengadakan arbitrasi (tahkim). Sebagai hakam atau
penengah, diangkat dua orang, yaitu Abu Musa al-Asy’ari yang dikenal lurus
mewakili kelompok Ali dan Amr ibn As yang licik menjadi delegasi golongan
Muawiyah. Keputusan Ali menerima arbitrasi sebagai jalan penyelesaian sengketa tentang
khilafah dengan Muawiyah ternyata tidak didukung oleh semua pengikutnya. Mereka
yang tidak setuju dengan sikap Ali keluar dari barisan, lalu mengangkat
Abdullah ibn Wahab al-Rasibi sebagai pemimpin mereka yang baru. Kelompok ini
kemudian memisahkan diri ke Harura, suatu desa dekat Kufah. Mereka inilah yang
dikenal dengan sebutan golongan Khawarij.
Seiring perjalanan waktu, kaum Khawarij di Harura
berhasil menyusun kekuatan dan memperoleh banyak pengikut, sehingga mereka
berani menyatakan pembangkangan terhadap Ali. Menurut keyakinan mereka, Ali dan Muawiyah
serta semua yang menyetujui arbitrasi dianggap telah menyimpang dari ajaran
Islam. Oleh karenanya, mereka harus ditentang dan dijatuhkan. Untuk menumpas
kaum Khawarij tersebut, Ali menyiapkan sepasukan tentara dan kemudian kedua
pasukan itu bertempur di sebuah tempat yang bernama Nahrawan. Pertempuran ini
berakhir dengan kemenangan tentara Ali dan hampir seluruh kekuatan Khawarij
dapat dimusnahkan. Menurut Abdul Karim Syahristani, tidak sampai sepuluh orang
kaum Khawarij yang selamat dari peperangan ini. Lainnya tumbang dalam medan
perang, termasuk pemimpin mereka Abdullah ibn Wahab al-Rasibi. Akan tetapi,
kekalahan total di Nahrawan tidak membuat kaum Khawarij patah semangat, malah
justru membangkitkan semangat jihad mereka untuk menjatuhkan Ali. Akhirnya
salah seorang di antara mereka yang bernama Abdurrahman ibn Muljam berhasil
membunuh Ali saat beliau keluar rumah hendak melaksanakan shalat Subuh pada 17
Ramadlan 40 H/24 Januari 661 M. Sirajuddin Abbas menambahkan bahwa rencana
pembunuhan yang dirancang oleh kaum Khawarij tidak saja Ali, tetapi juga
terhadap Muawiyah yang akan dilakukan oleh al-Barak dan Amr ibn As yang akan
dilaksanakan oleh Umar ibn Bakir. Amr ibn As akan dibunuh karena dinilai sebagai
delegasi Muawiyah dalam arbitrasi yang menipu. Tetapi pembunuhan terencana
terhadap keduanya tidak berhasil.
3. Doktrin –
Doktrin Khawarij.
Doktrin
– doktrin pokok khawarij adalah :
a. Khalifah
atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat islam .
b. Khalifah
tidak harus berasal dari keturunan arab.
c. Khalifah
dipilih secara permanen selama bersikap adil dan menjalankan syari’at islam.
d. Khalifah
sebelum Ali(Abu Bakar,Umar, dan Utsman ) adalah sah, tetapi setelah tahun ke
tujuh dari masalah ke khalifahannya, utsman dianggap menyeleweng.
e.
Khalifah Ali ibn Abi Thalib adalah sah tetapi
setelah terjadi arbitrase (takhim), Ia dianggap telah menyeleweng,
f.
Muawiyah dan Amr bin Al-Ash serta Abu Musa
Al-Asyari juga telah dianggap menyeleweng dan telah menjadi kafir,
g.
Pasukan perang jamal yang melawan Ali juga
kafir.
h.
Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut
muslim sehingga harus dibunuh. Yang sangat anarkis lagi mereka menganggap bahwa
seorang muslim dapat menjadi kafir apabila ia tidak mau membunuh muslim lain
yang telah dianggap kafir dengan resiko ia menanggung beban harus dilenyapkan
pula.
i.
Setiap Muslim harus berhijrah dan bergabung
dengan golongan mereka. Bila tidak mau bergabung, ia wajib diperangi.
j.
Seseorang harus menghindar dari pimipinan yang
menyeleweng.
k.
Adanya wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus
masuk surga dan orang jahat masuk neraka).
l.
Amar ma’ruf nahi mungkar.
m.
Memalingkan Ayat-ayat Al-Qur’an yang
mutasabihat (samar).
n.
Al – Qur’an adalah makhluk.
o. Manusia
bebas memutuskan perbuatannya bukan dari tuhan.
4.
Sekte –
Sekte Khawarij Dan Tokoh – Tokohnya.
Kaum khawarij terbagi kedalam beberapa sekte
atau kelompok – kelompok. Perpecahan ini
dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat tentang siapa yang disebut
orang kafir dan keluar dari agama islam dan siapa yang disebut orang mukmin, dan disebabkan
oleh sikap radikalitas yang melekat pada watak dan perbuatan mereka yang rentan
pada terjadinya perpecahan. Diantara sub-sub sekte dari aliran khawarij ialah:
a.
Al-Muhakkimah
Al-muhakimah adalah golongan khawarij yang terdiri dari pengikut-pengikut asli dari Ali Ibn Abi Thalib yang memisahkan diri dari kelompok Ali karena tidak menyetujui tahkim pada penyelsaian perang shiffin. Kelompok ini dipimpin oleh Abdullah bin Al-kiwa, Attab bin al-a’war Abdulah bin wahab ar-rasibi,Urwa bin jarir,Yazid bin Ashim Al muharribi dan Hurqus bin zuhair albajali yang dikenal dengan Dzul tsudayah. Mereka melandasi pemberontakan dengan dua fundamental yaitu: inovasi dalam imamah dan orang-orang yang menyetujiu arbitrase dipandang bersalah dan kafir.
Al-muhakimah adalah golongan khawarij yang terdiri dari pengikut-pengikut asli dari Ali Ibn Abi Thalib yang memisahkan diri dari kelompok Ali karena tidak menyetujui tahkim pada penyelsaian perang shiffin. Kelompok ini dipimpin oleh Abdullah bin Al-kiwa, Attab bin al-a’war Abdulah bin wahab ar-rasibi,Urwa bin jarir,Yazid bin Ashim Al muharribi dan Hurqus bin zuhair albajali yang dikenal dengan Dzul tsudayah. Mereka melandasi pemberontakan dengan dua fundamental yaitu: inovasi dalam imamah dan orang-orang yang menyetujiu arbitrase dipandang bersalah dan kafir.
b.
Al-Azariqah
Kelompok ini terbesar setalah Al-Muhakkimah, yang
dibentuk oleh Nafi’ Ibn al-Azraq, dengan pengikut tidak kurang dari dua puluh
ribu orang. Kelompok ini lebih keras dan radikal dari pada
kelompok sebelumnya. Karena tidak lagi memakai term “kafir” bagi yang melanggar
pemahaman Azariqah, tapi sampai kepada term “musyrik”. Lebih jauh mereka
menilai semua orang termasuk golongan mereka sendiri, yang tidak mau berhijrah
ke lingkungan al-Azariqah adalah musyrik dan harus diperangi. Pemahaman
kelompok ini yang terlalu radikal, kemudian memicu perpecahan
c.
Al-Najdat
Abu
fudaik, Rasyid at-Tawil dan Atiah al-Hanafi dari al-Azariqah, yang tidak
sependapat dengan pemahaman radikal Azariqah, memisahkan diri dan pergi ke
Yammah. Didaerah ini terdapat kelompok yang dibentuk Najdah Ibn ‘Amir al-Hanafi
yang sesungguhnya mau bergabung dengan kelompok al-Azariqah, kemudian dirangkul
oleh Abu Fudaik. Walaupun Najdah diangkat sebagai Imam, namun apabila
kelompoknya tidak memerlukan kepemimpinan, maka Imam tidak diperlukan lagi.
Dalam kelompok ini juga dikenal paham taqiah, yaitu merahasiakan pemehaman demi
keamanan. An-Najdat tergolong lunak terhadap pihak luar, hal ini kemudian
memicu perpecahan, Atiah al-Hanafi mengasingkan diri ke Iran, sedangkan Abu fudaik
dan Rasyid at-Tawil mengadakan perlawanan terhadap Najdah.
d.
Al-‘Ajaridah
Mereka
adalah pengikut Abd Karim Ibn ‘Ajrad, kelompok ini lebih lunak dai kelompok
sebelumnya. Dengan paham bahwa anak kecil tidak menanggung dosa oaring tuanya.
e.
Al-Sufriyah
Dipimpin
oleh Ziad Ibn as-Asyfar, kelompok ini sama ekstrimnya dengan Azariqah. Mereka
membagi term kufur menjadi kufur bi an-ni’mah dan kufur bi ar-Rububiyah,
sehingga tidak semua kufur dianggap keluar dari Islam.
f.
Al-Ibadiyah
Kelompok
ini paling moderat dari yang lain. Nama al-Ibadiyah diambil dari nama Abdullah
Ibn Ibad yang keluar dari Azariqah pada tahun 686 M. mereka menganggap
perbuatan dosa besar tidak mengakibatkan kekafiran, mereka tetap dianggap
muwahhid tapi bukan mukmin.
C.
MADZHAB MURJI’AH
1.
Pengertian
Murji’ah.
Kata Murji’ah berasal dari bahasa arab yaitu
irja’ atau arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan, dan pengharapan. Kata
arja’a mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada
pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu,
arja’a berarti pula meletakkan dibelakang atau mengemudikan, yaitu orang yang
mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu Murji’ah artinya orang yang
menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa, yakni Ali dan Muawiyah
serta pasukannya masing-masing, ke hari kiamat kelak.
Bagi kaum Murji'ah, orang yang melakukan dosa besar
adalah tetap mukmin, soal dosa besar yang dilakukannya merupakan hak Tuhan
untuk menentukannya dihari kemudian. Alasan mereka adalah bahwa orang yang
melakukan dosa besar itu masih tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah
dan Muhammad utusan (Rasul) Allah, atau dengan kata lain masih tetap
mengucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar iman. Selanjutnya, kaum
Muhajirin memberikan harapan bagi orang Islam yang melakukan dosa besar, dengan
mengatakan bahwa mereka tidak kekal di dalam neraka aliran Murji’ah menganggap
iman lebih utama dari amal perbuatan.
2.
Sejarah Murji’ah.
Sejarah Munculnya Murji’ah dan Pokok-pokok Ajarannya
Ada beberapa teori yang berkembang
mengenai asal-usul murji’ah :
a.
Teori yang menyatakan
bahwa gagasaan irja’, merupakan basis pertama kali sebagai gerakan politik yang
diperlihatkan oleh al-hasan bin muhammad al-hanafiyah, bentuk pendoktrinan
politik. Gagasan ini menceritakan bahwa 20 tahun setelah kematian muawiyah.
Tepatnya pada tahun 680 H dunia islam mulai dikoyak oleh pertikaian sipil. Hal
ini al-muhtar membawa paham syi’ah ke kuffah dari tahun 685-687 H, ibnu zubair
mengklaim kekhalifahan di mekkah berada di kekuasaan islam. Respon ini muncul
gagasan irja’ atau penagguhan (postponenment). Dengan sikapnya hasan menangani
murji’ah berdasarkan mencoba untuk mananggulangi perpecahan umat islam. Ia
kemudian mengelak berdampingan dengan kelompok syi’ah revolusioner yang
terlamopau menggunakan ali dan para pengikutnya, serta menjauhkan diri dati
khawarij yang menolak mengakui kekhalifahan muawiyah dengan alasan bahwa ia
adalah keturunan dari sang nepotisme usman.
b.
Teoti yang kedua
Menjelaskan perseteruan antara ali dan muawiyah, dengan adanya tahkim
(arbitrasi) atas usulan amar bin ash, seorang kaki tangan muawiyah. Kelompok
ali terpecah menjadi dua kubu (pro dan kontra). Kelompok kontra yaitu yang
menyatakan keluar dari ali dalam hal ini disebut kubu khawarij. Mereka
mamandang bahwa tahkim bertentangan dengan al-quran dalam pengertian tidak
berdasarkan hukum Allah. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa melakukan
tahkim itu merupakan dosa besar dan pelakunya dihukumi kafir. Pendapat ini
ditentang oleh kelompok murjiah yang mengatakan pembuat dosa besar itu tetap
mu’min tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah apakah dia akan
mengampuni apa tidak.
3.
Ajaran Pokok Murji’ah
Ajaran pokok Murji’ah pada dasarnya
bersumber dari gagasan atau doktrin irja’ atau arja’a yang diaplikasikan dalam
banyak persoalan, baik persoalan politik maupun teologis. Dibidang politik
doktrin irja diimplementasikan dengan sikap netral atau nonblok yang hampir selalu diekspresikan dengan sikap diam.
Adapun dibidang teologi doktrin irja’ dikembangkan oleh murji’ah ketika
menghadapi persoalan-persoalan teologis yang muncul.
Menurut beberapa tokoh garis besar ajaran murji’ah sebagai berikut :
a.
Penangguhan keputusan
terhadap ali dan mu’awiyah hingga Allah yang menentukan di hari akhir kelak
b.
Penangguhan ali untuk
menduduki rangking ke empat dalam peringkat kekhalifahan ar-rosyidin
c.
Memberikan harapan
kepada orang muslim yang melakukan dosa besar untuk memperoleh ampunan dan
rahmat dari Allah
d.
Doktrin murji’ah
menyerupai pengajaran mazhab yang skeptis dan empiris dari kalangan helenis
(meletakkan pentingnya iman daripada amal)
D.
Hubungan Sains dan Ilmu Tauhid
Dalam Al Quran, Allah berfirman kepada
umat manusia:
Ï%©!$# @yèy_ /ä3s9 z`ÏiB Ìyf¤±9$# Î|Ø÷zF{$# #Y$tR !#sÎ*sù OçFRr& çm÷ZÏiB tbrßÏ%qè? ÇÑÉÈ
Artinya:
“Tuhan yang
menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api)
dari kayu itu.” (TQS. Yaasiin, 36: 80)
Rancangan pada Oksigen
Kita telah mengetahui bagaimana karbon merupakan
unsur pem-bentuk makhluk hidup yang paling penting dan bagaimana karbon
diran-cang secara khusus untuk memenuhi fungsi tersebut. Tetapi keber-adaan
semua bentuk kehidupan berbasis karbon mutlak bergantung pada hal kedua:
energi. Energi adalah kebutuhan yang mutlak bagi kehidupan.
Tanaman hijau memperoleh energi mereka dari
matahari melalui proses fotosintesis. Bagi makhluk hidup lain di bumi—termasuk
kita—satu-satunya sumber energi adalah sebuah proses yang disebut
“oksida-si”—kata keren dari “pembakaran”. Energi organisme penghirup oksigen
diperoleh dari pembakaran makanan yang berasal dari tumbuhan dan binatang.
Seperti yang Anda tebak dari istilah “oksidasi”, pembakaran tersebut merupakan
reaksi kimia yang menjadikan zat-zat teroksidasi —dengan kata lain, zat-zat
digabungkan dengan oksigen. Karena itulah oksigen sama mutlaknya bagi kehidupan
seperti karbon dan hidrogen.
Rumus umum pembakaran (oksidasi) adalah sebagai berikut:
Senyawa karbon + oksigen > air + karbon dioksida + energi
Artinya bahwa ketika senyawa karbon dan oksigen
bergabung (tentu di bawah kondisi yang tepat), sebuah reaksi berlangsung
sehingga meng-hasilkan air dan karbon dioksida dan melepaskan energi yang
besar. Reaksi ini paling mudah terjadi pada hidrokarbon (senyawa hidrogen dan
karbon). Glukosa (sejenis gula yang juga hidrokarbon) adalah senyawa yang
secara tetap dibakar dalam tubuh Anda untuk menjaga agar tubuh tetap mendapat
pasokan energi.
Begitulah, hidrogen dan karbon yang menyusun
hidrokarbon me-rupakan unsur yang paling sesuai untuk berlangsungnya oksidasi.
Di antara semua atom lainnya, hidrogen paling mudah bergabung dengan oksigen
dan melepaskan energi paling banyak dalam proses tersebut. Jika Anda memerlukan
bahan bakar untuk membakar dalam oksigen, Anda tidak dapat menemukan yang lebih
baik daripada hidrogen. Dari nilainya sebagai bahan bakar, karbon berada di
urutan ketiga setelah hidrogen dan boron. Dalam buku The Fitness of the
Environment, Lawrence Henderson mengomentari kesesuaian luar biasa yang tampak
di sini:
Reaksi-reaksi kimia (tersebut di atas), yang
karena banyak alasan lain tampak paling sesuai untuk proses fisiologi, ternyata
merupakan reaksi yang mampu mengalirkan energi melimpah ke dalam arus
kehidupan.
Rancangan pada Api
(atau Mengapa Anda Tidak Langsung Terbakar)
Sebagaimana kita ketahui, reaksi dasar yang
melepaskan energi yang diperlukan bagi kelangsungan organisme penghirup oksigen
adalah oksi-dasi hidrokarbon. Tetapi fakta sederhana ini menimbulkan pertanyaan
menyulitkan: Jika tubuh kita tersusun terutama oleh hidrokarbon, me-ngapa
hidrokarbon dalam tubuh tidak teroksidasi juga? Dengan kata lain, mengapa kita
tidak langsung terbakar, seperti korek api digesekkan?
Tubuh kita secara terus-menerus berhubungan dengan
oksigen da-lam udara namun tidak teroksidasi: tubuh tidak terbakar. Mengapa
tidak?
Alasan bagi keadaan yang
bertolak belakang ini adalah bahwa di bawah suhu dan tekanan normal, oksigen
dalam bentuk molekul (O2) memiliki tingkat kelembaman (keengganan) atau
“nobilitas” yang besar. (Arti dalam istilah kimia, “nobilitas” adalah keengganan atau
ketidak-mampuan sebuah zat untuk melakukan reaksi kimia dengan zat lain).
Na-mun hal ini menimbulkan pertanyaan lain. Jika molekul oksigen begitu
“enggan” sampai menghindar dari membakar kita, bagaimana molekul yang sama
berhasil melakukan reaksi kimia di dalam tubuh kita?
Jawaban untuk pertanyaan ini,
yang membingungkan para ahli ki-mia pada awal abad ke-19, tidak diketahui
sampai pertengahan kedua abad ke-20, ketika para peneliti biokimia menemukan
keberadaan enzim dalam tubuh manusia yang berfungsi hanya untuk memaksa O2
di atmos-fer untuk memasuki reaksi kimia. Sebagai hasil serangkaian langkah yang sangat rumit, enzim
tersebut menggunakan atom besi dan tembaga dalam tubuh kita sebagai katalis.
Katalis adalah senyawa yang memulai sebuah reaksi kimia dan memungkinkan reaksi
tersebut berlanjut dalam keadaan berbeda (misalnya suhu yang lebih rendah, dan
lain-lain) yang mestinya tidak mungkin apabila tanpa katalis. 93
Dengan kata lain, terdapat hal yang sangat
menarik: Oksigen meru-pakan unsur yang mendukung oksidasi dan pembakaran, dan
wajar orang berharap oksigen akan membakar kita juga. Untuk mencegahnya, bentuk
molekul O2 oksigen yang ada di atmosfer diberi sifat kelembaman kimia yang
kuat. Karena itulah oksigen tidak mudah bereaksi. Namun di lain sisi, tubuh
kita bergantung pada sifat pem-bakaran oksigen untuk energi tubuh dan karena
alasan itulah sel-sel kita dilengkapi dengan sis-tem enzim yang sangat rumit yang
membuat gas “enggan” tersebut sangat reaktif.
Selagi dalam bahasan ini,
perlu ditunjukkan pula bahwa sistem en-zim merupakan contoh rancangan yang
begitu mengagumkan sehingga teori evolusi yang menyatakan bahwa kehidupan
muncul kebetulan tidak akan pernah mampu menjelaskannya. 94Terdapat pencegahan
lain agar tubuh kita tidak terbakar, yang dise-but ahli kimia Nevil Sidgwick
sebagai “sifat kelembaman karbon”.
Artinya, karbon tidak terlalu
mudah juga dalam bereaksi dengan oksigen di bawah tekanan dan suhu normal.
Dijelaskan dengan bahasa kimia, semua ini tampak agak sulit dimengerti, namun
sebetulnya yang akan digambarkan di sini adalah sesuatu yang pasti sudah
diketahui siapa pun yang pernah menyalakan perapian dengan tumpukan kayu atau
tungku batubara pada musim dingin atau mengadakan barbecue pada musim panas. Agar api mulai menyala, Anda harus menyiapkan
banyak perlengkapan (bahan bakar, pemantik dan lain-lain) atau meningkatkan
dengan tiba-ti-ba suhu bahan bakar sampai derajat sangat tinggi (seperti dengan
obor). Tetapi sekali bahan bakar itu terbakar, karbon di dalamnya bereaksi
de-ngan oksigen dengan cepat dan energi dilepas-kan dalam jumlah besar. Itulah
sebabnya sangat sulit menyalakan api tanpa sumber panas lain. Namun setelah
pembakaran dimulai, panas yang tinggi dihasilkan dan menyebabkan senya-wa
karbon lain yang terdekat ikut terbakar sehingga api menyebar.
Jika kita mencermati masalah ini, kita dapat
melihat bahwa api itu sendiri adalah contoh rancangan paling menarik. Sifat
kimia oksigen dan karbon telah dirancang sedemikan rupa sehingga kedua unsur
ter-sebut saling bereaksi (pembakaran) hanya ketika terdapat panas tinggi. Ini
juga bagus karena jika sebaliknya, kehidupan di planet ini tidak akan
menyenangkan atau bahkan tidak mungkin. Andaikan oksigen dan kar-bon hanya
sedikit lebih mudah saling bereaksi, pembakaran spontan — penyalaan dengan
sendirinya — dari manusia, pohon, dan binatang akan menjadi kejadian yang
lumrah ketika cuaca terlalu hangat. Misalnya, se-orang yang berjalan melalui
gurun bisa secara tiba-tiba terbakar di siang hari sangat terik; tanaman dan
binatang akan dihadapkan pada risiko yang sama. Bahkan andaikan kehidupan
mungkin ada dalam dunia seperti itu, benar-benar tidak akan menyenangkan.
Sebaliknya, andaikan karbon
dan oksigen sedikit lebih lembam (yaitu agak kurang reaktif) dari sekarang ini,
akan lebih sulit menyalakan api: bahkan mungkin mustahil. Dan tanpa api, kita
bukan saja tak mampu menjaga tubuh tetap hangat: besar kemungkinan bahwa tidak
akan ada kemajuan teknologi di planet kita, karena kemajuan tersebut bergantung
pada kemampuan mengolah bahan-bahan seperti logam; dan tanpa pa-nas yang
disediakan oleh api, pemurnian dan pengolahan logam menjadi mustahil.
Semua hal tersebut
menunjukkan bahwa sifat-sifat kimia karbon dan oksigen disusun agar sangat
sesuai bagi kebutuhan umat manusia. Berke-naan dengan hal ini, Michael Denton
mengatakan:
Ketidak-reaktifan atom karbon
dan oksigen pada suhu lingkungan, diga-bungkan dengan energi sangat besar yang
dilepaskan begitu pembakaran dimulai, benar-benar cocok bagi kehidupan di bumi.
Kombinasi aneh ini tidak hanya menyediakan energi melimpah bagi kehidupan
tingkat tinggi dari ok-sidasi yang terkendali dan teratur, namun juga
memungkinkan penggunaan api terkendali oleh umat manusia, serta memungkinkan
pe-manfaatan energi pembakaran yang melimpah bagi kemajuan teknologi.
Dengan kata lain, karbon dan
oksigen telah diciptakan dengan sifat-sifat yang paling sesuai untuk kehidupan
manusia. Sifat-sifat kedua
un-sur ini memungkinkan kita menyalakan api dan memanfaatkannya se-nyaman
mungkin. Lebih jauh lagi, dunia penuh dengan sumber karbon (misalnya kayu) yang
sesuai bagi pembakaran. Semua itu merupakan petunjuk bahwa api dan bahan-bahan
untuk memulai dan memper-tahankannya diciptakan khusus sesuai bagi kehidupan
manusia.
SIMPULAN
Sedangkan Aqidah menurut
terminologi yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi
tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang
tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
Khawarij berasal dari bahasa arab yaitu kharaja
(orang-orang yang keluar) artinya orang – orang yang keluar dari barisan Ali
Ibn Abi Thalib,karena kekecewaan mereka terhadap sikapnya yang telah
menerima tawaran tahkim (arbitrase) dari kelompok Mu’awiyyah yang dikomandoi
oleh Amr ibn Ash dalam Perang Shiffin ( 37H / 657 ).
Kata Murji’ah berasal dari bahasa arab yaitu
irja’ atau arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan, dan pengharapan. Kata
arja’a mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada
pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu,
arja’a berarti pula meletakkan dibelakang atau mengemudikan, yaitu orang yang
mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu Murji’ah artinya orang yang
menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa, yakni Ali dan Muawiyah
serta pasukannya masing-masing, ke hari kiamat kelak.
Salah satu fakta sains yang berhubungan dengan Ilmu Tauhid adalah ketika
senyawa karbon dan oksigen bergabung (tentu di bawah kondisi yang tepat),
sebuah reaksi berlangsung sehingga meng-hasilkan air dan karbon dioksida dan
melepaskan energi yang besar. Reaksi ini paling mudah terjadi pada hidrokarbon
(senyawa hidrogen dan karbon). Glukosa (sejenis gula yang juga hidrokarbon)
adalah senyawa yang secara tetap dibakar dalam tubuh Anda untuk menjaga agar
tubuh tetap mendapat pasokan energi.
DAFTAR PUSTAKA
Basri, Hasan dkk. 2007.
Ilmu Kalam. Bandung : Azkia Pustaka Utama.
Hamdani,
dkk. 2010. Ilmu Kalam. Bandung : Sega
Arsy.
Rozak, Abdul dan Rosihon Anwar. 2007. Ilmu Kalam.
Bandung : Pustaka Setia.
http://www.scribd.com/doc/22535427/Tugas-Agama-01-Makalah-Akidah-Dan-Komponen-Komponennya
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar