Halaman

Senin, 05 November 2012

Titik leleh


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Suatu zat yang tampil sebagai zat padat, tetapi tidak mempunyai struktur kristal yang berkembangbiak disebut amorf (tanpa bentuk). Ter dan kaca merupakan zat padat semacam itu. Tak seperti zat padat kristal, zat amorf tidak mempunyai titik-titik leleh tertentu yang tepat. Sebaliknya zat amorf melunak secara bertahap bila dipanasi dan meleleh dalam suatu jangka temperatur .Kristal adalah benda padat yang mempunyai permukaan-permukaan datar. Karena banyak zat padat seperti garam, kuarsa, dan salju ada dalam bentuk-bentuk yang jelas simetris, telah lama para ilmuwan menduga bahwa atom, ion ataupun molekul zat padat ini juga tersusun secara simetris (Keenan, 1991).
Zat padat umumnya mempunyai titik lebur yang tajam (rentangan suhunya kecil), sedangkan zat padat amorf akan melunak dan kemudian melebur dalam rentangan suhu yang beasr. Partikel zat padat amorf sulit dipelajari karena tidak teratur. Oleh sebab itu, pembahasan zat padat hanya membicarakan kristal. Suatu zat mempunyai bentuk kristal tertentu.
Dalam laporan akhir praktikum kimia organik I ini, akan di bahas mengenai titik leleh dari zat padat kristal yaitu naftalena.
1.2  Tujuan Percobaan
1.      Menentukan kemurnian suatu zat
2.      Mengetahui titik leleh suatu zat berdasarkan percobaan


BAB II
DASAR TEORI
            Ketika suatu zat padat dipanaskan maka zat padat akan meleleh. Dengan kata lain pada suhu tertentu zat padat mulai meleleh dan dengan kenaikan sedikit suhu semua zat padat akan berubah fasa menjadi cair. Suatu zat padat mempunyai molekul-molekul dalam bentuk kisi yang teratur dan diikat oleh gaya-gaya gravitasi dan elektrostatik. Bila zat tersebut dipanaskan, energi kinetik dari molekul-molekul tersebut akan naik. Hal ini akan mengakibatkan molekul bergetar yang akhirnya pada suatu suhu tertentu ikatan-ikatan molekul tersebut akan terlepas, maka zat padat akan meleleh.
Titik leleh (sebenarnya trayek titik leleh) adalah suhu yang teramati ketika zat padat mulai meleleh  sampai semua partikel berubah menjadi cair. Titik leleh senyawa murni adalah temperatur dimana zat padat berubah wujud menjadi zat cair pada tekanan  satu atmosfer. Dengan kata lain, titik leleh merupakan suhu ketika fase padat dan cair sama-sama berada dalam kesetimbangan. Kalor diperlukan untuk transisi dari bentuk kristal, pemecahan kisi kristal, sampai semua berbentuk cair. Proses pelelehan ini dalam kesetimbangan atau  reversible. Untuk melewati proses ini memerlukan waktu dan sedikit perubahan suhu.
Perubahan tekanan tidak mempengaruhi titik leleh suatu zat mengalami perubahan yang berarti. Pengaruh ikatan hidrogen terhadap titik leleh tidak begitu besar karena pada wujud padat jarak antar molekul cukup berdekatan dan yang paling berperan terhadap titik leleh adalah berat molekul zat dan bentuk simetris molekul. Titik leleh senyawa organik mudah untuk diamati sebab temperatur dimana pelelehan mulai terjadi hampir sama dengan temperatur dimana zat telah habis meleleh semuanya.
Jika zat padat yang diamati tidak murni, maka akan terjadi penyimpangan dari titik leleh senyawa murninya yang berupa penurunan titik leleh dan perluasan range titik leleh. Misal suatu asam murni diamati titik lelehnya pada temperatur 122,1oC-122,4oC dari titik lelehnya 122,2oC. Penambahan 20% zat padat lain akan mengakibatkan perubahan titik lelehnya menjadi 115oC - 119oC dari 122,1oC – 122,4oC. ( Rata-rata titik lelehnya lebih rendah 5oC dan range temperaturnya berubah menjadi 4oC dari 0,3oC .
Makin murni senyawa tersebut, trayek (range) suhu lelehnya makin sempit, biasanya tidak lebih dari 1 derajat. Adanya zat asing di dalam suatu kisi akan mengganggu struktur kristal keseluruhannya, dan akan memperlemah ikatan-ikatan di dalamnya. Akibatnya titik leleh senyawa (tidak murni) ini akan lebih rendah dari senyawa murninya, dan yang paling penting adalah trayek lelehnya yang makin lebar. Penentuan tititk leleh suatu senyawa murni ditentukan dari pengamatan trayek titik lelehnya, dimulai saat terjadinya pelelehan (sedikit), transisi padat-cair, sampai seluruh kristal mencair Hal ini dilakukan terhadap sedikit kristal (yang sudah digerus halus) yang diletakan dalam ujung baawah pipa gelas kapiler, lalu dipanaskan secara merata dan perlahan di sekitar kapiler ini. Pengukuran suhu harus tepat di tempat zat tersebut meleleh.
Pada unsur alkali memiliki satu elektron ikatan dan bertambah lemah jika jari-jari bertambah besar, hal ini menyebabkan titik leleh berkurang dari atas kebawah dalam satu golongan. Unsur halogen terikat oleh gaya Van Der Waals yang lemah gaya ini bertambah jika jari-jari bertambah besar , oleh sebab itu titik leleh bertambah besar dari atas ke bawah dalam satu golongan. Kekuatan ikatan logam bertambah dari kirike kanan , sehingga titik leleh bertambah dari kiri ke kanan dalam satu periode. Gas mulia memliki ikatan Van der Waals yang sangat lemah ,sehingga titik lelehnya sangat kecil. Titik leleh pada gas mulia ditentukan oleh besarnya nomor atom. Semakin besar nomor atom maka titik lelehnya semakin tinggi. Sementara itu titik leleh dari karbon sangat tinggi.
Dalam menentukan titik leleh suatu zat, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya zat tersebut meleleh adalah :
1.      Ukuran Kristal
Ukuran kristal sangat berpengaruh dalam menentukan titik leleh suatu zat. Apabila semakin besar ukuran partikel yang digunakan, maka semakin sulit terjadinya pelelehan.
2.      Banyaknya sampel
Banyaknya sampel suatu zat juga dapat mempengaruhi cepat lambatnya proses pelelehan. Hal ini dikarenakan apabila semakin sedikit sampel yang digunakan, maka semakin cepat proses pelelehannya. Begitu pula sebaliknya jika semakin banyak sampel yang digunakan maka semakin lama proses pelelehannya.
3.      Pengemasan dalam kapiler.
·   Pemanasan dalam suatu pemanas harus menggunakan bara api atau panas yang bertahan.
·   Adanya senyawa lain yang dapat mempengaruhi range titik leleh.






BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1  Alat-alat yang digunakan
No
Nama Alat
Jumlah
1.
Termometer
1
2.
Gelas kimia
1
3.
Statif
1
4.
Kaki tiga
1
5.
Kasa
1
6.
Pembakar spirtus
1
7.
Cawan porselen
1
8.
Botol semprot
1
9.
Timbangan
1
10.
Spatula
1
11.
Tabung reaksi
1
3.2  Bahan-bahan yang digunakan
No.
Nama Bahan
Jumlah
1.
Naftalena
2 gram
2.
Aquades
Secukupnya
3.3  Gambar Alat








3.4  Prosedur Percobaan
1.      Menimbang 2 gram naftalena dan memasukannya ke dalam tabung reaksi
2.      Memasukan sedikit demi sedikit pelarut (air) ke dalam gelas kimia
3.      Memasang thermometer dan memanaskannya dalam penangas air
4.      Mengamati naftalena ketika mulai meleleh
5.      Mencatat suhu awal
6.      Mencatat suhu akhir naftalena meleleh

















BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengamatan
No.
Keadaan
Suhu (0C)
1.
Awal Naftalena
32
2.
Lelehan Pertama
39
3.
Seluruhnya Meleleh
68
4.2 Pembahasan
            Berdasarkan hasil percobaan yang telah kami lakukan, naftalena pertama meleleh pada suhu 390C dan meleleh seluruhnya pada suhu 680C. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori titik leleh naftalena yaitu sekitar 80,50C.
Hal ini disebabkan karena zat padat yang diamati mungkin tidak murni(adanya zat asing), sehingga terjadi penyimpangan dari titik leleh senyawa murninya yang berupa penurunan titik leleh dan perluasan range titik leleh sehingga memperlemah ikatan-ikatan di dalamnya. Karena semakin murni suatu senyawa,maka  trayek (range) suhu lelehnya makin sempit,.







KESIMPULAN
1.      Titik leleh bertambah dari kiri ke kanan dalam satu periode dan bertambah dari atas ke bawah pada golongan transisi.
2.      Pengaruh ikatan hidrogen dan perubahan tekanan terhadap titik leleh tidak begitu besar.
3.      Penyimpangan titik leleh dapat disebabkan oleh tidak murninya suatu zat.
4.      Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi titik leleh zat diantaranya: pengemasan dalam kapiler, banyaknya sampel, dan ukuran Kristal.

















DAFTAR PUSTAKA
Achmad,Hiskia, Tupamahu.S. 2001. Struktur Atom, Struktur Molekul, dan Sistem Periodik.Bandung:PT.Citra Adtya Bakti.
Keenan. 1984. Kimia Untuk Universitas Jilid 2.Jakarta:Erlangga
Staf Pengajar Kimia Organik.2012.Penuntun Praktikum Kimia Organik 1.Bandung:UIN Sunan Gunung Djati.