BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Suatu zat
yang tampil sebagai zat padat, tetapi tidak mempunyai struktur kristal yang
berkembangbiak disebut amorf (tanpa bentuk). Ter dan kaca merupakan zat padat
semacam itu. Tak seperti zat padat kristal, zat amorf tidak mempunyai
titik-titik leleh tertentu yang tepat. Sebaliknya zat amorf melunak secara
bertahap bila dipanasi dan meleleh dalam suatu jangka temperatur .Kristal
adalah benda padat yang mempunyai permukaan-permukaan datar. Karena banyak zat
padat seperti garam, kuarsa, dan salju ada dalam bentuk-bentuk yang jelas
simetris, telah lama para ilmuwan menduga bahwa atom, ion ataupun molekul zat
padat ini juga tersusun secara simetris (Keenan, 1991).
Zat padat
umumnya mempunyai titik lebur yang tajam (rentangan suhunya kecil), sedangkan
zat padat amorf akan melunak dan kemudian melebur dalam rentangan suhu yang
beasr. Partikel zat padat amorf sulit dipelajari karena tidak teratur. Oleh
sebab itu, pembahasan zat padat hanya membicarakan kristal. Suatu zat mempunyai
bentuk kristal tertentu.
Dalam
laporan akhir praktikum kimia organik I ini, akan di bahas mengenai titik leleh
dari zat padat kristal yaitu naftalena.
1.2 Tujuan Percobaan
1.
Menentukan
kemurnian suatu zat
2.
Mengetahui
titik leleh suatu zat berdasarkan percobaan
BAB II
DASAR TEORI
Ketika
suatu zat padat dipanaskan maka zat padat akan meleleh. Dengan kata lain pada
suhu tertentu zat padat mulai meleleh dan dengan kenaikan sedikit suhu semua
zat padat akan berubah fasa menjadi cair. Suatu zat padat mempunyai
molekul-molekul dalam bentuk kisi yang teratur dan diikat oleh gaya-gaya
gravitasi dan elektrostatik. Bila zat tersebut dipanaskan, energi kinetik dari
molekul-molekul tersebut akan naik. Hal ini akan mengakibatkan molekul bergetar
yang akhirnya pada suatu suhu tertentu ikatan-ikatan molekul tersebut akan
terlepas, maka zat padat akan meleleh.
Titik
leleh (sebenarnya trayek titik leleh) adalah suhu yang teramati ketika zat
padat mulai meleleh sampai semua
partikel berubah menjadi cair. Titik leleh senyawa murni adalah temperatur
dimana zat padat berubah wujud menjadi zat cair pada tekanan satu atmosfer. Dengan kata lain, titik leleh
merupakan suhu ketika fase padat dan cair sama-sama berada dalam kesetimbangan.
Kalor diperlukan untuk transisi dari bentuk kristal, pemecahan kisi kristal,
sampai semua berbentuk cair. Proses pelelehan ini dalam kesetimbangan atau reversible. Untuk melewati proses ini
memerlukan waktu dan sedikit perubahan suhu.
Perubahan
tekanan tidak mempengaruhi titik leleh suatu zat mengalami perubahan yang
berarti. Pengaruh ikatan hidrogen terhadap titik leleh tidak begitu besar
karena pada wujud padat jarak antar molekul cukup berdekatan dan yang paling
berperan terhadap titik leleh adalah berat molekul zat dan bentuk simetris
molekul. Titik leleh senyawa organik mudah untuk diamati sebab temperatur
dimana pelelehan mulai terjadi hampir sama dengan temperatur dimana zat telah habis
meleleh semuanya.
Jika
zat padat yang diamati tidak murni, maka akan terjadi penyimpangan dari titik leleh
senyawa murninya yang berupa penurunan titik leleh dan perluasan range titik
leleh. Misal suatu asam murni diamati titik
lelehnya pada temperatur 122,1oC-122,4oC dari titik
lelehnya 122,2oC. Penambahan 20% zat padat lain akan mengakibatkan
perubahan titik lelehnya menjadi 115oC - 119oC dari
122,1oC – 122,4oC. ( Rata-rata titik lelehnya lebih rendah 5oC
dan range temperaturnya berubah menjadi 4oC dari 0,3oC
.
Makin murni senyawa tersebut, trayek
(range) suhu lelehnya makin sempit, biasanya tidak lebih dari 1 derajat. Adanya
zat asing di dalam suatu kisi akan mengganggu struktur kristal keseluruhannya,
dan akan memperlemah ikatan-ikatan di dalamnya. Akibatnya titik leleh senyawa
(tidak murni) ini akan lebih rendah dari senyawa murninya, dan yang paling
penting adalah trayek lelehnya yang makin lebar. Penentuan tititk leleh suatu
senyawa murni ditentukan dari pengamatan trayek titik lelehnya, dimulai saat
terjadinya pelelehan (sedikit), transisi padat-cair, sampai seluruh kristal
mencair Hal ini dilakukan terhadap sedikit kristal (yang sudah digerus halus)
yang diletakan dalam ujung baawah pipa gelas kapiler, lalu dipanaskan secara
merata dan perlahan di sekitar kapiler ini. Pengukuran suhu harus tepat di
tempat zat tersebut meleleh.
Pada
unsur alkali memiliki satu elektron ikatan dan bertambah lemah jika jari-jari
bertambah besar, hal ini menyebabkan titik leleh berkurang dari atas kebawah
dalam satu golongan. Unsur halogen terikat oleh gaya Van Der Waals yang lemah
gaya ini bertambah jika jari-jari bertambah besar , oleh sebab itu titik leleh bertambah besar dari atas
ke bawah dalam satu golongan. Kekuatan ikatan logam bertambah dari
kirike kanan , sehingga titik leleh
bertambah dari kiri ke kanan dalam satu periode. Gas mulia memliki ikatan
Van der Waals yang sangat lemah ,sehingga titik lelehnya sangat kecil.
Titik leleh pada gas mulia ditentukan oleh besarnya nomor atom. Semakin besar
nomor atom maka titik lelehnya semakin tinggi. Sementara itu titik leleh dari
karbon sangat tinggi.
Dalam menentukan titik leleh suatu
zat, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya zat tersebut
meleleh adalah :
1. Ukuran Kristal
Ukuran kristal sangat berpengaruh
dalam menentukan titik leleh suatu zat. Apabila semakin besar ukuran partikel
yang digunakan, maka semakin sulit terjadinya pelelehan.
2. Banyaknya sampel
Banyaknya sampel suatu zat juga
dapat mempengaruhi cepat lambatnya proses pelelehan. Hal ini dikarenakan
apabila semakin sedikit sampel yang digunakan, maka semakin cepat proses
pelelehannya. Begitu pula sebaliknya jika semakin banyak sampel yang digunakan
maka semakin lama proses pelelehannya.
3. Pengemasan dalam kapiler.
· Pemanasan dalam
suatu pemanas harus menggunakan bara api atau panas yang bertahan.
· Adanya senyawa lain yang dapat
mempengaruhi range titik leleh.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat-alat yang digunakan
|
No
|
Nama Alat
|
Jumlah
|
|
1.
|
Termometer
|
1
|
|
2.
|
Gelas kimia
|
1
|
|
3.
|
Statif
|
1
|
|
4.
|
Kaki tiga
|
1
|
|
5.
|
Kasa
|
1
|
|
6.
|
Pembakar spirtus
|
1
|
|
7.
|
Cawan porselen
|
1
|
|
8.
|
Botol semprot
|
1
|
|
9.
|
Timbangan
|
1
|
|
10.
|
Spatula
|
1
|
|
11.
|
Tabung reaksi
|
1
|
3.2 Bahan-bahan yang digunakan
|
No.
|
Nama Bahan
|
Jumlah
|
|
1.
|
Naftalena
|
2 gram
|
|
2.
|
Aquades
|
Secukupnya
|
3.3 Gambar Alat
3.4 Prosedur Percobaan
1. Menimbang 2 gram naftalena dan
memasukannya ke dalam tabung reaksi
2. Memasukan sedikit demi sedikit
pelarut (air) ke dalam gelas kimia
3. Memasang thermometer dan
memanaskannya dalam penangas air
4. Mengamati naftalena ketika mulai
meleleh
5. Mencatat suhu awal
6. Mencatat suhu akhir naftalena
meleleh
BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengamatan
|
No.
|
Keadaan
|
Suhu (0C)
|
|
1.
|
Awal Naftalena
|
32
|
|
2.
|
Lelehan Pertama
|
39
|
|
3.
|
Seluruhnya Meleleh
|
68
|
4.2
Pembahasan
Berdasarkan
hasil percobaan yang telah kami lakukan, naftalena pertama meleleh pada suhu 390C
dan meleleh seluruhnya pada suhu 680C. Hal tersebut tidak sesuai dengan
teori titik leleh naftalena yaitu sekitar 80,50C.
Hal ini disebabkan karena zat
padat yang diamati mungkin tidak murni(adanya zat asing), sehingga terjadi penyimpangan dari titik leleh
senyawa murninya yang berupa penurunan titik leleh dan perluasan range titik
leleh sehingga memperlemah ikatan-ikatan di dalamnya. Karena semakin murni
suatu senyawa,maka trayek (range) suhu
lelehnya makin sempit,.
KESIMPULAN
1. Titik leleh bertambah dari kiri ke
kanan dalam satu periode dan bertambah dari atas ke bawah pada golongan
transisi.
2. Pengaruh ikatan hidrogen dan
perubahan tekanan terhadap titik leleh tidak begitu besar.
3. Penyimpangan titik leleh dapat
disebabkan oleh tidak murninya suatu zat.
4. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi titik leleh zat diantaranya: pengemasan dalam kapiler, banyaknya
sampel, dan ukuran Kristal.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad,Hiskia, Tupamahu.S. 2001. Struktur Atom, Struktur Molekul, dan Sistem Periodik.Bandung:PT.Citra
Adtya Bakti.
Keenan. 1984. Kimia
Untuk Universitas Jilid 2.Jakarta:Erlangga
Staf Pengajar Kimia Organik.2012.Penuntun Praktikum Kimia Organik 1.Bandung:UIN Sunan Gunung Djati.